BUKITTINGGI, — Peringatan usia satu abad keberadaan Jam Gadang di Kota Bukittinggi diposisikan sebagai momentum penting untuk merefleksikan kembali perjalanan sejarah, merawat cagar budaya, serta memperkokoh identitas kebudayaan Minangkabau. Ikon arsitektural yang berdiri sejak tahun 1926 tersebut bukan sekadar penanda geografis dan magnet pariwisata, melainkan saksi bisu berbagai peristiwa bersejarah dalam panggung perjuangan bangsa Indonesia.
Pemerintah Provinsi Sumatera Barat menegaskan pentingnya pemaknaan mendalam atas keberadaan landmark ini dalam rangkaian peringatan 100 tahun Jam Gadang yang dihadiri oleh jajaran pemerintah daerah, tokoh masyarakat, sejarawan, dan elemen pemuda di Bukittinggi.
Jam Gadang dibangun pada masa pemerintahan kolonial Belanda sebagai hadiah dari Ratu Belanda kepada Rookmaker, controleur Fort de Kock (Kota Bukittinggi) kala itu. Dirancang oleh arsitek lokal Yazin dan Sutan Gigi Ameh, bangunan ini mengalami beberapa kali perubahan pada bentuk atapnya—mulai dari gaya Eropa, era pendudukan Jepang, hingga akhirnya mengadopsi bentuk atap gonjong khas Rumah Gadang setelah kemerdekaan Indonesia.
Pemprov Sumbar menekankan bahwa transformasi Jam Gadang mencerminkan ketahanan budaya dan kemampuan masyarakat Minangkabau dalam mempertahankan nilai-nilai lokal di tengah pusaran perubahan zaman.
Oleh karena itu, peringatan satu abad ini diharapkan tidak berhenti pada seremoni perayaan semata, tetapi menjadi pemantik kesadaran kolektif untuk menjaga kelestarian fisik bangunan, merawat ingatan sejarah, serta mewariskannya kepada generasi penerus.
Di tengah pesatnya perkembangan industri pariwisata di Kota Bukittinggi, pemerintah daerah diingatkan untuk tetap mengedepankan kaidah-kaidah konservasi cagar budaya dalam mengelola kawasan sekitar Jam Gadang. Penataan ruang publik di sekitar pedestrian Pedati dan Taman Jam Gadang harus berjalan selaras dengan upaya perlindungan struktur fisik bangunan utama dari risiko kerusakan.
Pemprov Sumbar mendorong pemerintah kota bersama para pemangku kepentingan untuk terus mengembangkan narasi edukasi sejarah yang melingkupi kawasan Jam Gadang, sehingga wisatawan tidak hanya menikmati estetika visual, tetapi juga memahami nilai sejarah dan kebudayaan yang dikandungnya.
Melalui komitmen perlindungan cagar budaya yang berkelanjutan, keberadaan Jam Gadang diharapkan akan terus berdiri kokoh sebagai simbol kebanggaan, pusat peradaban, dan pilar identitas Minangkabau hingga abad-abad mendatang.

Komentar
Tidak ada komentar:
Posting Komentar