PAYAKUMBUH — Ruang Aula Lantai 3 Gedung Perpustakaan Daerah Kota Payakumbuh penuh sesak oleh ratusan mahasiswa dan pengajar Institut Darul Qur’an (IDAQU) Payakumbuh, Senin, 21 September 2026. Mereka hadir menyimak Kuliah Umum bertajuk “Al-Qur’an Sebagai Sumber Inspirasi Dalam Membangun Peradaban Masa Depan”, yang juga menandai dimulainya semester ganjil tahun akademik 2026/2027.
Hadir sebagai narasumber utama, Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Syekh Djambek Bukittinggi, Prof. Dr. Silfia Hanani, S.Ag., M.Si. Dalam paparannya, Silfia menyoroti pentingnya tradisi membaca dan riset dalam membangun peradaban, yang menurut dia berpangkal pada perintah pertama Al-Qur’an: Iqra’.
“Tidak ada tokoh besar yang lahir di muka bumi tanpa membaca,” ujar Silfia. Ia memaparkan formulasi hubungan antara kitab suci dan kemajuan masyarakat: dari wahyu menuju ilmu, inovasi, peradaban, hingga kehidupan yang berkelanjutan.
Silfia menyinggung pemikiran sosiolog Ibnu Khaldun serta rekam jejak intelektual Buya Hamka sebagai contoh konkret bagaimana peradaban tumbuh dari tradisi membaca yang kuat. Sebaliknya, ia memperingatkan bahwa ancaman terbesar peradaban hari ini adalah kemerosotan budaya literasi. “Jika kita berhenti membaca, laju inovasi terhenti, dan peradaban lambat laun akan meredup.”
Untuk membendung ancaman tersebut, Silfia menyodorkan tiga agenda penting bagi institusi pendidikan Islam: penguasaan bahasa asing agar mampu bersaing secara global, dorongan menghasilkan karya intelektual seperti jurnal dan buku ketimbang sekadar menjadi konsumen ilmu, serta pembenahan budaya baca. Ia juga menekankan perlunya memperkuat program studi mendasar seperti Tafsir dan Hadis sebagai pilar pengembangan cabang ilmu lainnya.
Rektor IDAQU Payakumbuh, Dr. Ahmad Deski, S.Si., M.A., menyatakan kuliah umum semesteran ini ditujukan untuk memberi pembekalan mental dan akademik, terutama bagi 88 mahasiswa baru yang terbagi di empat program studi pada dua fakultas.
Ahmad Deski membeberkan target ekspansi lembaganya, termasuk pengajuan tiga program studi baru—dua di antaranya ditargetkan mengantongi izin tahun ini. Pihaknya juga memasang target tinggi untuk peningkatan mutu tenaga pengajar. “Kami menargetkan minimal 80 persen dosen sudah bergelar doktor pada 2027,” kata Deski.
Ketua Yayasan Devitra, S.Sos., M.Si., yang membuka resmi kegiatan perkuliahan, menegaskan bahwa pengelolaan kampus bukan cuma urusan administratif, melainkan proses pendidikan karakter (tarbiyah). Pihaknya mendorong civitas akademika menjadikan Al-Qur’an sebagai landasan akademik untuk membawa kampus bersaing di tingkat nasional maupun internasional.
Peluang akselerasi tersebut terbuka setelah UIN Bukittinggi menyatakan kesiapan menjalin kerja sama strategis dengan IDAQU, termasuk dalam skema riset bersama dan jaringan akademik internasional.




Komentar
Tidak ada komentar:
Posting Komentar